Zaidan Hakim | 15-12-2025 | Angkringan Mbok Dampiri
AI sekarang makin gencar dan terdapat beraneka ragam hype-train yang turut mendominasi media. Salah satu penyebabnya adalah kedekatan AI dengan individu; kemurahan kapitalis dalam memanjakan konsumennya untuk menggunakan AI yang sering dirasakan sangat bermanfaat. Di sisi lain, terdapat topik tentang krisisnya kemampuan berpikir dan kritis di zaman sekarang; dari segi pendidikan, konsumsi media sosial, dan penggunaan AI. Untuk kemampuan berpikir sekaligus kritis adalah sebuah keistimewaan hamba yang memiliki derajat lebih tinggi dibanding makhluk mistikal-Nya yang lain: kemampuan berkehendak. Sebuah kehendak seseorang dibentuk dari kemampuannya untuk berpikir dan menimbang-nimbang segala informasi yang ada dalam individu; pengetahuan informasi dan pengalaman sekaligus afeksi dan intuisi. Apabila hulu keistimewaan seorang manusia terdapat pada kemampuan berpikir, lantas bagaimana seseorang bisa memperbaiki dan menambah kemampuan berpikir dengan tingkatan yang lebih baik? Terdapat beberapa cabang nilai; kecepatan berpikir, fokus berpikir, konstruksi sistem nalar, dan kemampuan kreatif dalam menciptakan ide abstrak yang anyar. Cabang-cabang itu dapat ditelaah kembali, namun otak sebagai alat berpikir; bagaimana cara otak berkembang? Bagaimana cara mengembangkan kemampuan otak? Untuk hipotesis yang begitu kasar, sebagai ciri-ciri makhluk hidup dan logika biologis tentang konsumsi energi untuk berproses/bermetobolisme; pasokan energi dapat dikulik-kulik. Dalam bahasa yang familiar, makanan yang bergizi bisa lebih disempurnakan; menghitung komposisi dan proporsi gizi; guna menemukan titik puncak efektivitas gizi makanan yang mengandung pasokan energi terbaik untuk otak mampu berkembang sehingga tercapai peningkatan-peningkatan dalam cabang-cabang nilai sebuah akal manusia yang diistimewakan.