Zaidan Hakim | 04-11-2025 | Masjid Nurul Ikhlas
Aku mendapatkan beberapa essay dari kawan-kawan kader tentang ideologi IMM. Aku melakukan skimming tentang essay itu, memiliki poin-poin yang bagus, namun disayangkan akan tidak adanya rujukan sama sekali.
Hal ini mengingatkanku untuk berterimakasih pada mas Prima. Beliau merupakan penghuni grup kepenulisan di WA Bulu Burung, yang aku dapatkan informasi grup itu melalui postingan di dalam grup FB Ingin Menjadi Penulis Namun Enggan Menulis. Setelah sedikit melakukan penelusuran, mas Prima merupakan seorang guru dan merupakan lulusan dari UGM.
Di waktu yang sama, telah kulalui rapat persiapan kader Angkatan untuk melanjutkan estafet ke kepemimpinanan dari Komisariat ke Cabang. Hal lain dari mempermasalahkan politik dalam berijtihad untuk berjuang di ranah Cabang, aku mengangkat permasalahan meritokrasi yang menyambung dengan pembahasan lawan-lawan dalam mengambil sebuah bidang.
Baru saja kusadari ada sesuatu yang sangat menarik, dan membutuhkan literasi digital daripada hanya masalah literasi semata yang selalu dipermasalahkan maupun literasi digital yang hanya terbatas dalam mendapatkan informasi-informasi dari akun kredibel di sosial media.
Meritokrasi dalam internet itu nyata, dan anonimitas internet adalah sebuah anugerah dari teknologi komputasi. Kunci utama adanya internet adalah penyediaan dan penyebaran informasi yang begitu mudah untuk diakses oleh orang-orang dalam jaringan. Sosial media adalah contohnya, kemudian adanya akun-akun informatif merupakan usaha dakwah melalui media dunia maya.
Semakin hari, semakin banyak pelajaran seiringnya banyaknya perjalanan berkelana di dunia maya, semakin kutemukan juga permasalahan-permasalahan riil yang sangat menarik untuk di diskusikan dalam ruang-ruang maya yang anonim.
Banyak pelajaran yang kudapati dari mas Prima, itupun dengan perantara dunia maya yang anonim. Alih-alih mengenal mas Prima sebagai guru lulusan UGM, aku hanya berdiskusi padanya tentang “bagaimana sih cara menulis artikel yang bagus?” Hal itu berawal dari chat log grup WA yang diramaikan oleh diseminasi essay-essay beliau melalui Monster Journal dan Historical Meaning, website yang diurus oleh beliau.
Kemudian banyak juga perjalanan dalam menyusuri skena-skena game, banyak yang kudapati merupakan forum kritis yang bersifat meritokratis untuk mencaci berbagai banyak game. Untuk mencaci maki hanyalah sebuah sampul yang bersuasana jenuh, namun didalamnya terdapat forum sehat yang membangun. Narasi-narasi kasar hanyalah sebuah kata semata, namun yang sebaiknya diperhatikan adalah mengapa ada narasi-narasi itu? Ada kata-kata itu, apa saja permasalahan yang ada dalam sebuah game?
Meritokrasi rasa-rasanya menyangkal dari narasi-narasi mindfulness, diskursus psikologi yang begitu diagungkan oleh banyak orang per hari ini. Apa yang disangkalnya adalah pernyataan bahwa era informasi sekarang telah melahirkan tuntutan-tuntutan yang tidak realistis. Yang aku tangkap, pada dasarnya, itu hanyalah rasa minder dan insecurity belaka. Kemudian untuk tidak merasa demikian maka baiknya seseorang tidak perlu dihantui oleh tuntutan-tuntutan yang rasanya setinggi langit. Namun begitu, apakah berarti tuntutan tinggi itu tidak nyata? Apakah orang-orang harus menyangkal realitas?
Setiap orang memerlukan Pendidikan, salah satunya untuk mendidik dirinya dalam menangani permasalahan. Mari gunakan logika sederhana saja. Mari kita aminkan hal-hal yang sangat agung dan tidak realistis itu merupakan sebuah realita; jika lukisan digital-mu mendapat kritikan kemudian salah satunya membandingkan dengan lukisan digital yang lain. Terdapat dua pilihan, untuk mengambil pil biru atau pil merah; untuk menerapkan seni bodoamat atau dengan pahitnya menerima kritikan keras itu dan mencoba untuk mengasah kemampuan lebih baik lagi.
Banyak hal-hal itu dijumpai dalam skena-skena kesenian di internet; menulis cerita, melukis digital maupun karya editorial foto dan video, bahkan fotografi. Ruang digital sungguh-sungguh menelanjangi siapa seseorang itu di dunia nyata, yang dilihat hanyalah apa yang sedang di tampilkan dalam ruang maya. Fenomena ini merupakan manifestasi dari pepatah mulia yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir “Perhatikan apa yang dikatakan dan jangan melihat siapa yang mengatakan.” Mau itu orang kaya, orang miskin, perusahaan besar atau sebuah passion work seorang indie, apakah seseorang itu merupakan seorang ahli atau bukan tidak menjadi menjadi pertimbangan apabila karya mereka tergolong bagus atau buruk. Orang-orang bebas menilai sesuai kebenaran yang mereka Yakini.
Masalah meritokrasi dalam internet adalah argumen pokokku untuk mengecewakan kawan-kawan seperjuangan maupun demisioner-demisioner yang telah memupuk ekspektasi untuk melanjutkan kepemimpinan di tingkat lebih tinggi. Aku tidak melihat kebermanfaatan sama sekali aku berjuang dalam politik praktis itu, aku pun meragukan akan kemampuanku dan bukti nyata seandainya aku pantas untuk melanjutkan kepemimpinan, begitu pun kawan-kawan seperjuangan yang tidak mampu menjawab bukti kemampuanku.
Daripada berlarut-larut untuk mencari nama dan lebih jauhnya mampu membenahi permasalahan-permasalahan yang kutemukan, aku rela menghadapi ketidakpastian realita yang akan kuhidupi, namun hal yang pasti adalah pengamalan empiris yang bisa kulakukan dan kucintai untuk mengasah kemampuanku dalam kepenulisan fiksi maupun lukisan digital. Untuk berijtihad dalam mengatasi masalah-masalah yang ada, aku berani mampu untuk membantu di balik layar dengan kemudahan mobilisasi untuk komunikasi dengan pimpinan yang baru. Tidak ringan untuk merelakan beban moral, namun niat dialihkan untuk berargumentasi dengan pimpinan yang baru tentang permasalahan yang ada dan harus diselesaikan bagaimanapun caranya.